Ketika masih bersekolah, Nazuna menulis sepucuk surat kepada seorang pemuda yang diam-diam diminatinya di dalam tren setiap pagi, tetapi dia meninggal dunia sebelum surat itu sempat diberikan. Dua puluh empat tahun kemudian, kenangan cinta pertama itu kembali. Hubungannya dengan bapa pemuda tersebut perlahan-lahan membuka kisah yang tidak pernah diketahuinya, dalam cerita lembut tentang cinta, kehilangan dan masa.